Salah satu bagian penting dari tumbuh dewasa adalah belajar menerima konsekuensi. Setidaknya, itu ajaran yang saya terima sejak dulu. Oleh karenanya, setiap orang sepertinya tidak akan pernah berhenti ‘mendewasa’.
Waktu kecil, orang tua kita menentukan dan bertanggung jawab akan hal apapun untuk kita. Lalu, ada masanya kita mulai diberikan kesempatan memilih dan memutuskan. Cepat atau lambat, setiap orang harus belajar bertanggung jawab akan pilihannya.
Kadang pilihan kita tidak tepat. Kadang bisa juga sudah tepat. Pastinya tidak mungkin selalu tepat atau selalu tidak tepat. Dan, seringkali kita tidak tahu apakah pilihan kita tepat atau tidak tepat. Setidaknya sampai beberapa lama setelah kita ambil pilihannya.
Lucunya, kita suka menghabiskan waktu berusaha keras untuk memilih yang tepat tetapi lupa bahwa masih harus menjalani pilihannya. Menjalani. Ini yang menantang. Apapun pilihannya, potensi implikasi bisa sangat beragam, terutama tentang bagaimana orang sekitar memandang kita. Sepintas sepele karena buat apa memikirkan pandangan orang. Nyatanya, mayoritas orang merasa cemas justru karena ilusi tekanan sosial.
Di zaman yang banyak ilusi ini, sulit memperoleh ketenangan batin. Untuk menghindari ilusi, perlu kesadaran. Jika memilih bersikap, lakukan dengan sadar. Sudah memilih, jalani (beserta implikasinya) dengan sadar. Indikasi kesadaran pada umumnya, yah minimal bernapas. hehe.

Tinggalkan Balasan